Last update: 21 February 2013 | 16:24 WIB

Museum Nasional Indonesia (Museum Gajah)

Museum Nasional Indonesia adalah museum sejarah, arkeologi, etnografi dan geografi bangsa Indonesia. Terletak di kawasan lapangan merdeka atau lapangan Monas di sisi sebelah barat, tepatnya Jalan Merdeka Barat, Jakarta.

Koleksi yang dipamerkan di museum ini merupakan jejak peradaban bangsa Indonesia sejak dari jaman pra sejarah dinilai dari berbagai aspek. Area museum cukup luas, bahkan disebut-sebut sebagai yang terbesar di Asia Tenggara. Terdapat dua bangunan utama, yaitu unit A merupakan bangunan lama yang sudah dibangun sejak jaman kolonial. Satu lagi unit B atau dikenal juga dengan gedung arca, sebuah bangunan tambahan yang modern. Menurut keterangan pihak museum, dalam waktu dekat akan dibangun juga unit C.

Ruang pamer di unit A disusun berdasarkan jenis koleksi, seperti ruang tekstil, ruang perunggu dan ruang etnografi daerah. Sedangkan di unit B pameran disusun berdasarkan tema, yaitu (1) Manusia dan Lingkungan, (2) Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Ekonomi, (3) Organisasi Sosial dan Pola Pemukiman, (4) Khasanah dan Keramik.

Museum ini dikenal juga dengan nama Museum Gajah. Nama ini melekat karena di halaman depan museum terdapat patung gajah yang terbuat dari perunggu. Patung itu pemberian dari Raja Chulalongkorn (sekarang Thailand) tatkala berkunjung ke Batavia pada tahun 1871.

Sejarah Museum Nasional

Museum Nasional Indonesia (Museum Gajah)

Museum Nasional tempo doeloe (foto: Museum Nasional)

Cikal bakal Museum Nasional Indonesia terbentuk pada masa kolonial Belanda. Pada tanggal 24 April 1778 pemerintah Hindia Belanda menginisiasi pembentukan Perkumpulan Seni dan Ilmu Pengetahuan Batavia (Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen). Perkumpulan ini bersifat independen dan bertujuan untuk memajukan penelitian di bidang seni dan ilmu pengetahuan. Perhimpuanan ini aktif mempublikasikan berbagai hasil penelitan mengenai biologi, fisika, arkeologi, kesusastraan, etnologi, dan sejarah.

Dalam perjalanannya, seorang pendiri perkumpulan bernama JCM Radermacher menghibahkan sebuah rumah di Jalan Kalibesar, kawasan Jakarta Kota sekarang, untuk menyimpan koleksi benda seni budaya dan buku-buku. Rumah ini menjadi cikal bakal museum.
Pada saat Thomas Stanford Raffles menjadi Gubernur Jenderal, ia menjabat juga sebagai ketua perkumpulan. Ia juga memindahkan koleksi di Kalibesar yang seudah penuh sesak ke gedung baru di Jalan Majapahit, sekarang menjadi kompleks Sekretariat Negara. Gedung yang diberinama Societeit de Harmonie ini digunakan sebagai museum dan tempat pertemuan komunitas sastra.

Semakin hari koleksi perkumpulan semakin banyak, hingga pada tahun 1862 pemerintah Hindia Belanda memutuskan untuk membuat gedung baru di Jalan Medan Merdeka Barat, lokasi museum saat ini. Baru pada tahun 1868, Museum di Jalan Merdeka Barat dibuka untuk umum.

Setelah Indonesia merdeka tepatnya pada tanggal 26 Januari 1950 Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen berubah nama menjadi Lembaga Kebudayaan Indonesia. Semboyan lembaga ini adalah “Memajukan ilmu-ilmu kebudayaan yang berfaedah untuk meningkatkan pengetahuan tentang kepulauan Indonesia dan negeri-negeri sekitarnya”.

Pada tanggal 17 September 1962, Lembaga Kebudayaan Indonesia menyerahkan museum kepada pemerintah Indonesia. Oleh pemerintah Indonesia museum ini dijadikan Museum Pusat. Kemudian pada tahun 1962 Museum Pusat ditingkatkan statusnya menjadi Museum Nasional dan dikelola oleh Direktorat Kebudayaan, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. Pada tahun 2005 hingga sekarang, pengelolaah Museum Nasional berada di bawah Kementrian Pariwisata.

Arsitektur dan koleksi Museum Nasional

Museum Nasional Indonesia (Museum Gajah)

Gedung lama, Museum Nasional

Bangunan Museum Nasional bergaya klasisme sangat dipengaruhi arsitektur Eropa abad 18, yang mencerminkan semangat pencerahan. Pada tahun 1996 dibagian sayap bangunan ditambahkan gedung baru. Kini Museum Nasional terdiri dari dua bangunan utama yaitu unit A dan Unit B.

Gedung lama (Unit A)

Koleksi arca bartu dari jaman Hindu-Budha, terletak di bagian lobi dan bagian tengah (atrium) bangunan. Menampilkan patung-patung religious dari jaman Hindu-Budha beberapa yang terkenal diantaranya patung Adityawarman. Patung setinggi empat meter ini ditemukan di Sumatera Barat. Selain itu terdapat juga arca-arca baru dari Jawa, Bali, Sumatera, dan Kalimantan. Beberapa diantaranya terdapat arca-arca dan relic dari Borobudur.

Koleksi harta, terletak di lantai dua dan terdiri dari dua ruang, yaitu ruang perbendaharaan arkeologi dan perbendaharaan etnografi. Memamerkan berbagai benda peninggalan yang terbuat dari emas maupun perak. Terdapat juga patung Budha dari emas dan berbagai peninggalan dari jaman Mataram Kuni pada abad ke-9.

Koleksi keramik, disini terdapat koleksi keramik terakota dari jaman Majapahit. Salah satu yang terkenal adalah celengan babi. Juga terdapat keramik yang didapat dari perdagangan dengan Jepang, Cina, Vietnam, Myanmar, dan Thailand. Keramik-keramik dari Cina berasal dari massa Dinasti Han, Tang, Sung, Yuan, Ming, dan Qing.

Koleksi etnografi, memamerkan benda-benda kebudayaan dari berbagai suku bangsa di Indonesia. Dikelompokkan kedalam sebaran geografi seperti Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi dan Papua.

Koleksi pra sejarah, memamerkan benda-benda prasejarah seperti fosil manusia purba dan artefak-artefak dari jaman tersebut. Terdapat juga menhir, alat-alat dari batu dan perunggu seperti kapak dan benda-benda yang berkaitan dengan upacara ritual.

Koleksi jaman kolonial, memamerkan benda-benda dari masa VOC hingga pemerintahan Hindia Belanda. Namun sebagian besar benda-benda dari masa kolonial ini sudah dipindahkan ke Museum Sejarah Jakarta (Museum Fatahilah).

Selain koleksi-koleksi diatas, di gedung ini terdapat juga koleksi-koleksi lainnya, seperti mata uang, tekstil dan perhiasan.

Gedung baru (Unit B)

Museum Nasional Indonesia (Museum Gajah)

Geduang arca, Museum Nasional

Gedung baru yang dibangun disisi utara ini tediri dari tujuh lantai, namun hanya empat lantai yang dijadikan ruang pamer koleksi, sisanya dimanfaatkan sebagai kantor. Ruang pamer di unit B dibagi berdasarkan tema sebagai berikut:

    • Lantai 1. Manusia dan Lingkungan
    • Lantai 2. Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Ekonomi
    • Lantai 3. Organisasi Sosial dan Pola Pemukiman
    • Lantai 4. Khasanah dan Keramik

Lokasi dan akses menuju Museum Nasional

Nama Museum Nasional
Jenis Sejarah, arkeologi, etnografi, geografi
Alamat Jl. Medan Merdeka Barat 12, Jakarta
Telp  +62 21 3868172
Fax  +62 21 3447778
Web www.museumnasional.or.id
Akses Bis transjakarta koridor 1 (Blok M-Kota) turun di halte Monas
KRL berhenti di St. Gambir, jalan kaki mengitari lapangan Monas

Peta lokasi Museum Nasional


View Larger Map

Jadwal kunjungan dan harga tiket

Jadwal kunjungan

Selasa-Kamis: 08.30 hingga 14.30 WIB
Jumat: 08.30-11.30 WIB
Sabtu: 08.30-13.30 WIB
Minggu: 08.30-14.30 WIB
Senin dan hari libur nasional, museum ditutup.

Harga tiket

Pengunjung perorangan
Dewasa  Rp. 5000,-
Anak-anak Rp. 2000,-.

Pengunjung rombongan
Dewasa Rp. 3000,-
Anak-anak Rp. 1000,-.

Turis asing Rp. 10.000,-

Tulis komentar